Makna Jamasan Pusaka Oleh Sesepuh Panji Sewu

oleh -267 views

Lampung , – Lebih dari sekadar ritual adat, Jamasan Pusaka menyimpan pesan moral yang dalam, ungkap Bpk. Solehudin, Tokoh Paguyuban Tosan Aji “Panji Sewu”, yang berdomisili di Pringsewu, Provinsi Lampung. Menurutnya, pusaka seperti keris adalah simbol nilai-nilai hidup, seperti keberanian, ketekunan, keteguhan hati, dan kebijaksanaan.

Merawat pusaka berarti juga menghargai nilai-nilai tersebut dan menjaga warisan leluhur agar tidak lekang oleh waktu. Ritual Jamasan Pusaka menjadi pengingat bahwa manusia perlu melakukan “jamasan batin” – membersihkan hati dari prasangka buruk, dendam, atau kebencian yang mungkin tertanam dalam diri. Dengan demikian, saat tahun baru Jawa dimulai, seseorang telah siap menjalani hidup dengan hati yang lebih bersih, pikiran yang jernih, serta semangat yang baru.

Di era modern, mungkin tidak semua orang memiliki keris atau pusaka secara fisik. Namun, semangat dari Jamasan tetap relevan: bahwa di momen pergantian waktu, kita diajak untuk kembali menyatu dengan nilai-nilai kebaikan, menata kembali niat hidup, dan menyambut hari-hari baru dengan ketulusan serta kesadaran diri.

Ritual Jamasan Pusaka bukan hanya bentuk pelestarian budaya, tapi juga sebuah refleksi spiritual kolektif masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi harmoni antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Keris dapat dipahami sebagai senjata perang, atau sangu/bekal hidup. Bekal untuk hidup itulah yang diwujudkan dalam bentuk uba-rampe yang secara nyata diwujudkan dalam bentuk berbagai barang duniawi.

“Semuanya ini diharapkan agar tumetesing kacuwan dadiya rerentenging kanugrahan, agar segala kekecewaan berubah menjadi anugerah,” ungkap Bpk. Solehudin. Dengan demikian, ritual Jamasan Pusaka menjadi sarana untuk memurnikan diri dan meningkatkan kesadaran spiritual, serta memupuk harmoni dan kebersamaan dalam masyarakat. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *