Tiongkok, diberitain.net – Delegasi Indonesia baru saja memenuhi undangan All-China Journalist Association (ACJA) semacam PWI-nya Negeri Tiongkok.
Dalam kunjungannya ke Negeri Tirai Bambu,Tanggal 11-19 Juli 2026, Delegasi Indonesia yang dipimpin Ketua Umum JMSI Dr. Teguh Santosa, Pembina dan Pendiri JMSI Mursyid Songsang asal Jambi, Julius M. Sinaga, Ketua JMSI Kalimantan Tengah, Farida dari farah.id, dan Ketua JMSI Lampung Ahmad Novriwan, mendapatkan berbagai pengalaman berharga.
Catatan ini menjadi salah satu buah tangan Delegasi Indonesia dalam kunjungan tersebut. All-China Journalists Association (ACJA) berada di bawah pengawasan Departemen Publisiti Sentral Partai Komunis China dan bertindak sebagai penghubung resmi antara pemerintah dan komunitas pers.
Demikian dikatakan Nicholas, salah seorang pengurus ACJA yang membidangi hubungan Asia dan Afrika.
Karena sifatnya ini, hubungan ACJA dengan Presiden Xi Jinping adalah hubungan loyalitas ideologis dan institusional. Di mana Presiden China secara langsung menginstruksikan ACJA untuk memastikan media melayani kepentingan Partai.
Di mata dan pikiran Presiden Xi Jinping menekankan agar media di China harus “surnamed Party” (bermarga Partai), yang berarti media dan jurnalis di bawah naungan ACJA memiliki kewajiban untuk mencintai dan setia mengabdi pada Partai Komunis China.
ACJA beroperasi sebagai organisasi massa resmi yang mengawasi, melisensi, dan memberikan pelatihan politik serta keterampilan teknis kepada sekitar 200.000 jurnalis di seluruh China.
Presiden Xi Jinping secara rutin memberikan surat ucapan selamat atau bertemu langsung dengan perwakilan ACJA dan pemenang penghargaan jurnalistik nasional, menegaskan pentingnya peran pers dalam menyebarkan kebijakan negara. ACJA ditugaskan untuk menyatukan para jurnalis dan menjadikan asosiasi tersebut sebagai “rumah” bagi mereka.
Di tingkat internasional, ACJA bertugas mempromosikan narasi resmi China dan menjalin kerja sama atau pertukaran dengan organisasi pers negara lain—termasuk kesepakatan dengan organisasi media di Asia, Afrika, dan negara yang terlibat dalam inisiatif Belt and Road-Pemerintahan Tiongkok yang meliputi Asia, Afrika, Amerika dan lain-lain yang tercakup di 152 negara.
Akankah strategi yang dimainkan Presiden Prabowo akan memberikan manfaat bagi hubungan bilateral Indonesia-China? Mereka dan Delegasi JMSI menunggu.
Komunikasi Indonesia-Beijing yang intens diharap mengharmonisasi hubungan kedua negara lebih baik dan bermanfaat bagi media di Indonesia khususnya dan tidak terkecuali Lampung tercinta.
Tak salah jika Delegasi Indonesia yang dipimpin Ketua Umum JMSI DR Teguh Santosa, Pembina dan Pendiri JMSI Mursyid Songsang asal Jambi, Julius M Sinaga, Ketua JMSI Kalimantan Tengah, Farida dari Farah.id dan Ketua JMSI Lampung Ahmad Novriwan menitip pesan; Indonesia dan Lampung butuh ‘Sister City’ untuk mengembangkan wilayah dan kualitas media yang menyambungkan dua kepentingan bersama Tiongkok. Tabik. (*)





